• Kalimantan Utara

Tolak Keberadaan Maxim, Puluhan Sopir Angkot di Nunukan Mogok dan Memarkir Mobil Sepanjang Alun-alun

Akhyar Zein | Selasa, 30/08/2022 20:40 WIB
Tolak Keberadaan Maxim, Puluhan Sopir Angkot di Nunukan Mogok dan Memarkir Mobil Sepanjang Alun-alun AKSI: Puluhan sopir angkutan kota (angkot) melakukan aksi di depan alun-alun kota Nunukan (Foto : Novita A.K/benuanta)

Kalimantan Utara - Puluhan sopir angkutan kota (angkot) di Nunukan, Kalimantan Utara, menggelar aksi mogok spontan, pada Selasa (30/8). Mereka memarkirkan mobilnya memenuhi sepanjang Alun-alun Nunukan, dan memprotes keberadaan salah satu aplikator kendaraan transportasi online, Maxim.

"Ini aksi spontan dari para sopir angkot. Penghasilan mereka sudah lama menjadi keluhan sebelum adanya Maxim. Keberadaan Maxim khususnya yang roda empat, semakin mengurangi pendapatan mereka. Kami juga selaku Organda, menolak keras keberadaan Maxim di Nunukan," ujar Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) Nunukan, Laoding, Selasa.

Laoding mengatakan, para sopir angkot selama ini hanya mengandalkan kedatangan kapal laut dan pesanan angkut barang yang tidak setiap hari ada.

Kondisi tersebut membuat penghasilan para sopir kembang kempis. Mereka menilai kondisi itu diperparah lagi dengan keberadaan mobil pribadi yang tergabung dalam transportasi online Maxim.

"Apalagi, mobil mobil Maxim ini banyak yang dari luar daerah. Pelat nomornya luar daerah, ini juga kami pertanyakan," imbuh dia. dilansir kompas

Saat ini, Organda Nunukan, sudah membuat surat protes yang segera dikirimkan ke Bupati Nunukan, dan ditembuskan ke DPRD Nunukan juga Dinas Perhubungan Provinsi Kaltara.

Hal tersebut berkaitan dengan nasib lebih dari 200 unit angkot yang selama ini melayani transportasi warga Nunukan.

"Kami menunggu solusi untuk masalah ini. mungkin kalaupun Maxim bisa beroperasi, sebatas roda dua saja, kan itu juga rawan (gesekan) dengan ojek konvensional. Kalau roda dua operasi, roda empat juga operasi, penghasilan para sopir angkot di Nunukan akan menjadi masalah," kata dia.

Direktur Maxim Nunukan, Herdianti Kadir, mengatakan, Maxim mulai beroperasi pertengahan bulan Juni 2022. Ada sekitar 55 mobil dan lebih 70 sepeda motor yang terdaftar sebagai driver di Nunukan.

"Tujuan Maxim kami operasikan di Nunukan adalah melihat ancaman pengangguran pada langkah penghapusan tenaga honorer di bulan November 2023. Kami membuka peluang kerja untuk mengantisipasi membeludaknya pengangguran," kata Herdianti.

Herdianti menegaskan, semua regulasi perizinan dan armada yang beroperasi di bawah managemen Maxim Nunukan, telah sesuai prosedur.

Adapun masalah armada Maxim roda empat dengan pelat nomor luar Nunukan, Herdianti menegaskan, semua melalui seleksi dan mayoritas bernomor polisi KU atau kode daerah Kalimantan Utara.

"Kami lakukan seleksi saat registrasi, tapi kami tidak tahu kalau ada driver yang mendownload aplikasi dan beroperasi dengan nomor luar daerah Nunukan," kata dia.

Pada dasarnya, tidak ada aturan terkait dari mana mobil tersebut berasal dalam ketentuan Maxim. Asalkan WNI, memiliki surat surat kendaraan lengkap, antara SIM dan STNK sinkron, dan masa berlaku masih aktif, maka orang tersebut bisa bergabung dengan Maxim.

"Kalau tuntutan para sopir angkot Nunukan agar kami menon aktifkan aplikasi car-nya, kami katakan kalau semua aplikasi itu terkoneksi. Kalau satu non aktif, maka semua juga ikut non aktif," ujar dia.

Dari rate atau prosentase kepuasan pelanggan, lanjut dia, bisa dilihat kalau masyarakat Nunukan sangat terbantu dengan keberadaan Maxim.

Maxim tidak ada batasan waktu dan selalu bersiaga pada cuaca dan waktu apapun. Dari sisi ongkos, Maxim juga sangat terkontrol dan semua tercatat dalam aplikasi.

"Tarif sesuai jarak dan semua tertera dalam aplikasi. Masyarakat juga sangat terbantu. Bisa dilihat dari indeks kepuasan konsumen di aplikasi," ujar dia.

Kasat Lantas Polres Nunukan, AKP Arofiek Aprilian Riswanto, mengatakan, aksi puluhan sopir angkot Nunukan adalah sebuah aksi dan reaksi spontan yang memang membutuhkan solusi dan pemikiran serius.

Meski zaman sudah berkembang ke era digital, namun perlu adanya kebijakan terhadap belum siapnya para sopir konvensional dalam perubahan zaman.

"Kami panggil per bagian, per sektor, per lini, untuk menyelesaikan masalah di tempatnya masing-masing, agar klir dan sebagai upaya meredam aksi tak diinginkan," kata dia.

Satlantas akan memberikan penjelasan komprehensif maupun detail, setelah melakukan mediasi, dengan mengundang sejumlah pihak, mulai dari sopir angkot, Organda, Dinas Perhubungan, hingga manajemen Maxim. Hal ang perlu menjadi catatan, kata Arofiek, keberadaan armada angkutan penumpang dengan pelat nomor luar daerah.

Tentu hal tersebut butuh pembahasan lebih lanjut, apalagi jika berhitung pajak, kendaraan luar daerah tidak membayar pajak di Nunukan, sedangkan aspal yang digunakan ada di Nunukan, dan jatah BBM juga milik masyarakat Nunukan.

"Kami minta waktu untuk mencari solusi terbaik. Sesegera mungkin kami pertemukan semua, dan kami berharap ada solusi yang bisa diterima semua pihak," kata Arofiek.

FOLLOW US