• Nasional

Junta Militer Myanmar Batasi Distribusi Bantuan dari UHNCR di Mindat

Asrul | Rabu, 21/07/2021 12:23 WIB
Junta Militer Myanmar Batasi Distribusi Bantuan dari UHNCR di Mindat Seorang pengunjuk rasa antikudeta melemparkan bom asap terhadap tindakan keras polisi di kota Thaketa Yangon, Myanmar (foto: AP)

Jakarta, beritakaltara.com - Militer Myanmar membatasi distribusi bantuan internasional yang tiba di Mindat, Negara Bagian Chin, pada Senin lalu, sehingga tidak menjangkau banyak orang yang membutuhkan, sebagaimana dilaporkan media lokal Myanmar Now.

Sumber lokal mengungkapkan bantuan yang diberikan Badan Pengungsi PBB (UNHCR) tersebut hanya didistribusikan ke sejumlah kamp yang dikendalikan militer.

“Seorang kolonel menginstruksikan bahwa hanya keluarga yang tinggal di kamp yang menerima bantuan, jadi kami hanya bisa mendistribusikan kepada mereka,” kata seorang anggota tim lokal yang terlibat dalam negosiasi dengan militer, seperti diberitakan Myanmar Now, Selasa.

Masuknya bantuan internasional ke daerah tersebut merupakan bagian dari perjanjian yang disepakati antara militer Myanmar dengan Angkatan Pertahanan Rakyat (PDF).

Adapun PDF dibentuk pemerintah pro-demokrasi untuk melawan rezim kudeta.

Militer Myanmar dan PDF di Mindat menyepakati gencatan senjata sejak 23 Juni agar sekitar 20.000 warga yang mengungsi akibat pertempuran selama berbulan-bulan dapat kembali ke kota mereka.

Saat ini, terdapat 10 kamp yang beroperasi dengan persetujuan militer pusat kota Mindat.

Namun, kebanyakan dari warga yang berlindung di kamp-kamp tersebut telah kembali ke rumah mereka, sementara mereka yang berada di luar kota tetap bersembunyi.

Myanmar Now mendapat konfirmasi 50 keluarga yang tinggal di Gereja Baptis Mindat dan biara Baho di Mindat telah menerima bantuan UNHCR.

Tim bantuan lokal memperkirakan sekitar 9.000 orang masih membutuhkan makanan dan bantuan medis, di mana kebanyakan berada di area terpencil atau hutan dekat Mindat.

“Mereka tidak membiarkan kami pergi ke hutan karena ‘alasan keamanan’. Saya kira tidak mudah menjangkau mereka yang masih di hutan atau di desa,” ungkap anggota tim tersebut.

Seorang pejabat yang bekerja dengan komite pengawas bantuan mengungkapkan militer Myanmar tidak hanya menerapkan pembatasan sewenang-wenang, tetapi juga merampas bantuan.

Menurut pejabat tersebut, Dewan Militer menyita obat apapun yang ditemukan dalam bantuan.

“Jadi kami sangat membutuhkan obat untuk orang sakit saat ini,” ucap pejabat yang tak ingin disebutkan namanya itu.

Dalam kondisi saat ini, pejabat itu menambahkan bantuan dari UNHCR tidak banyak membantu warga yang sangat membutuhkan.

Pada Senin lalu, UNHCR mengumumkan telah mendistribusikan sejumlah bantuan untuk mencegah Covid-19, kelambu, tikar, selimut, peralatan dapur, dan lampu tenaga surya untuk memasok 5.000 orang di daerah tersebut.

UNHCR mengungkapkan akan bertemu dengan pemimpin agama dan perwakilan masyarakat lainnya untuk mendalami lebih lanjut kebutuhan para pengungsi.

Namun, UNHCR belum mengomentari pembatasan yang diterapkan militer tersebut sejauh ini.

Myanmar diguncang kudeta militer pada 1 Februari dengan menggulingkan pemerintah terpilih Aung San Suu Kyi.

Militer berdalih pemilu yang mengantarkan Suu Kyi terpilih dengan suara terbanyak penuh kecurangan.(AA)

FOLLOW US