• Nasional

Dalami Proses Jual Beli Jabatan di Tanjung Balai, KPK Garap Dua Saksi

Agus Mughni Muttaqin | Selasa, 27/04/2021 17:46 WIB
Dalami Proses Jual Beli Jabatan di Tanjung Balai, KPK Garap Dua Saksi Logo KPK

Jakarta, Beritakaltara.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendalami proses jual beli jabatan di Pemerintah Kota Tanjung Balai, Sumatera Utara. Hal itu diselik lewat pemeriksaan dua orang saksi pada Sabtu (24/4) di Polres Tanjung Balai.

Pemeriksaan saksi itu dalam rangka penyidikan kasus dugaan tindak pidana korupsi penerimaan hadiah atau janji terkait lelang atau mutasi jabatan di Pemerintah Kota Tanjungbalai Tahun 2019.

"Asmui Rasyid (Mengurus Rumah Tangga) dan Ahmad Suangkupon (PNS) didalami pengetahuannya antara lain terkait dengan proses pelaksanaan lelang jabatan yang dilaksanakan di Pemkot Tanjung Balai," kata Plt Juru Bicara KPK, Ali Fikri dalam keterangannya, Selasa (27/4).

Ali mengatakan, penyidik KPK juga mendalami aliran uang hasil korupsi yang diduga mengalir ke pihak-pihak yang terkait dengan perkara ini. Pendalaman dilakukan keterangan saksi bernama Ivo Arzia Isma.

Selain itu, Ali menyebut ada dua orang saksi yang mangkir atau tidak hadir dalam pemeriksaan KPK. Mereka ialah Asisten III/ Plt Kepala BPKAD Kota Tanjung Balai, Muhammad Arif Batubara dan Istri Wali Kota Tanjung Balai M Syahrial, Sri Silvisa Novita.

Ali tak menjelaskan secara rinci alasan kedua saksi mangkir dari panggilan KPK. Mereka hanya mengkonfirmasi untuk menjadwalkan ulang pemeriksaan.

Seperti diketahui, KPK tengah melakukan penyidikan dugaan tindak pidana korupsi penerimaan hadiah atau janji terkait lelang atau mutasi jabatan di Pemerintah Kota Tanjungbalai Tahun 2019.

Ketua KPK Firli Bahuri pun memastikan bahwa penyelidikan kasus tersebut tetap berjalan. Dia sudah menandatangani surat perintah penyidikan (sprindik) perkara tersebut pada (15/4) lalu.

"Saya pastikan peristiwa korupsi jual beli jabatan atau yang lain di Pemkot Tanjungbalai itu tetap berlanjut dan sedang berjalan," kat Firli Bahuri di Gedung KPK.

Akan tetapi, Firli belum bisa memastikan kapan kasus dugaan jual beli jabatan di Pemkot Tanjungbalai diumumkan ke publik. "Nanti kita umumkan. Karena masih proses," sebutnya.

Sebagaimana diketahui, kasus ini yang menjadi awal terlibatnya penyidik KPK Ajun Komisaris Polisi (AKP) Stepanus Robin Pattuju dalam skandal suap di Pemkot Tanjung Balai.

Stepanus diduga menerima suap sebesar Rp1,3 miliar dari Syahrial agar membantu menghentikan penyelidikan dugaan jual beli jabatan di Tanjungbalai yang sedang diusut KPK.

Komisi antikorupsi kemudian menjerat Stepanus, Syahrial, dan pengacara Markus Husain sebagai tersangka kasus dugaan suap berupa penerimaan hadiah atau janji terkait perkara Wali Kota Tanjungbalai tahun 2020-2021.

Markus Husain juga diduga menerima uang dari pihak lain sekira Rp200 juta, sedangkan Syahrial dari bulan Oktober 2020 sampai April 2021 juga diduga menerima uang dari pihak lain melalui transfer rekening bank atas nama Riefka Amalia, yang mana ialah teman dari saudara Syahrial, sebesar Rp438 juta.

Terpopuler

Selengkapnya >>

FOLLOW US